“Basically, for farmers, rice fields are laboratories for conducting trial studies.” The sentence came from Aep Saepudin, a farmer from Tasikmalaya who was awarded the Satya Badge for Development in the Field of Food Security and Agriculture in 2017 for his contribution to the agricultural sector in Indonesia. Actually, what did he contribute to Indonesia?
How good it is that this journey began in the 1990s, when Aep was just a farmer who experienced several crop failures. This problem is caused by the emergence of weeds similar to rice plants in Aep’s rice fields, namely jajagoan (Echinochloa crus-galli). This weed is one of the damaging detriments to farmers because it can significantly reduce yields.
The unfortunate phenomenon that happened to Aep really bothered his curiosity, he began to find out why the pests could grow faster than the rice he planted. After some time passed, Aep got the answer to the question that always hangs in his head. The reason this wild plant can cause crop failure is because it stands on a shallow, fertile soil layer. From the knowledge found by him, Aep tried to plant rice seeds just like jajagoan, planted single and shallow. These trials resulted in rice plants that could grow and develop well and led to an increase in crop productivity. This astonishing discovery must have been quickly heard by other farmers. Seeing that Aep’s innovation was profitable, the farmers applied single and shallow planting on their rice fields.
On the basis of his confidence in the success of his experiment, this farmer from Pagerageung Subdistrict, Tasikmalaya Regency has ventured to share knowledge about single and shallow planting in various national agricultural forums. The activities carried out by Aep certainly made his achievements known and recognized by many people until he got the nickname Aep Deet (pronounced: déét), the word déét itself is taken from Sundanese which means shallow.
Another thing that Aep may never have imagined before is that his self-taught trial made him feel like he was living in a neighboring country for about five years, from 2009 to 2014. Aep’s goal came to Malaysia to help increase the productivity of rice farming. While living there, Aep was also visited by many people who were interested in agriculture and discussed with each other about this shallow planting method.
Now, Aep’s activities are still farming by applying organic principles, he has eliminated the use of chemicals and toxins in his agricultural activities. In addition, Aep remains active in various Tasikmalaya farming communities, using this place as a forum for discussion on renewal that can empower him and other farmers.


Sekelumit Petualangan Petani Tanam Dangkal

“Pada dasarnya, bagi petani, sawah adalah laboratorium tempat melakukan kajian uji coba.” Tuturan kalimat itu keluar dari Aep Saepudin, seorang petani asal Tasikmalaya yang diganjar penghargaan Satya Lencana Pembangunan Bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian pada tahun 2017 atas kontribusinya dalam bidang pertanian di Indonesia. Sebenarnya, apa yang dia sumbangkan untuk Indonesia?

Alangkah baiknya perjalanan ini dimulai di tahun 1990-an, kala Aep hanyalah seorang petani yang beberapa kali mengalami gagal panen. Permasalah ini disebabkan oleh munculnya rumput liar mirip tanaman padi pada lahan sawah Aep, yaitu jajagoan (Echinochloa crus-galli). Gulma tersebut memang merupakan salah satu perusak yang merugikan bagi petani karena dapat menurunkan hasil panen dengan cukup besar.

Fenomena tak menguntungkan yang menimpa Aep sangat mengusik rasa penasarannya, dia mulai mencari tahu mengapa hama jajagoan bisa tumbuh lebih cepat daripada padi yang dia tanam. Setelah beberapa waktu bergulir, Aep mendapat jawaban dari pertanyaan yang selalu menggantung di kepalanya. Alasan tanaman liar itu bisa membuat usahanya gagal panen adalah karena berdiri pada lapisan tanah dangkal dan subur. Dari pengetahuan yang ditemukan olehnya, Aep mencoba menanam benih padi sama seperti jajagoan, ditanam tunggal dan dangkal. Uji coba tersebut menghasilkan tanaman padi yang bisa tumbuh dan berkembang dengan baik serta menyebabkan peningkatan produktivitas panen. Penemuan mencengangkan ini sudah pasti dengan cepat terdengar oleh petani lain. Melihat bahwa inovasi Aep mampu mendatangkan keuntungan, para petani pun menerapkan tanam tunggal dan dangkal di lahan sawah mereka.

Atas dasar rasa percaya diri akan keberhasilan percobaanya, petani asal Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya ini memberanikan diri berbagi ilmu mengenai tanam tunggal dan dangkal dalam berbagai forum pertanian nasional. Kegiatan yang dilakukan oleh Aep tentu saja membuat pencapaiannya makin dikenal dan diakui oleh banyak orang sampai dia mendapatkan nama panggilan Aep Deet (dibaca: déét), kata déét sendiri diambil dari Bahasa Sunda yang memiliki arti dangkal.

Hal lain yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Aep adalah uji coba otodidak miliknya membuat dia pernah merasakan hidup di Negeri Jiran selama kurang lebih lima tahun, dari 2009 hingga 2014. Tujuan Aep bertandang ke Malaysia untuk membantu produktivitas pertanian padi bertambah naik. Ketika tinggal di sana, Aep juga banyak didatangi oleh orang-orang yang tertarik pada pertanian dan saling berdiskusi tentang cara tanam dangkal ini. 

Sekarang, kegiatan Aep masih bertani dengan menerapkan prinsip organik, dia sudah menghilangkan penggunaan bahan kimia dan racun dalam aktivitas pertaniannya. Selain itu, Aep pun tetap aktif di berbagai komunitas tani Tasikmalaya, memanfaatkan tempat tersebut sebagai wadah diskusi pembaharuan yang dapat memberdayakan dirinya dan petani lain.

(Ket. Penampakan perbedaan fisik dari tanaman padi yang ditanam dangkal (di sebelah kiri) dan tanaman padi yang ditanam secara biasa)

Author : Trie Septia Nurhaliza

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *