Have you ever thought about the final fate of organic waste transported by cleaners? Does that trash biodegrade on its own? Did you know that the decomposition of organic waste can occur only if it is ‘dumped’ into its natural environment? Then, what about the final disposal site (TPA), which should be the place where the organic waste from your house ends? Is the landfill an ideal place to decompose organic waste? 

Landfill conditions often don’t have good oxygen circulation and also have hot temperatures. Due to the anaerobic conditions of the landfill, organic waste does not decompose completely and instead produces unwanted gases, such as methane gas which is one of the contributors to climate change globally. Because of the long impact that can result in natural damage, so instead of letting the organic waste pile up in the landfill, why not try to process the waste? In this article, the Agrituner Initiative will introduce the Takakura method, a technique for processing organic waste that can be done indoors and of course easy to do at home.   

Originally named Takakura Composting Method (TCM), the Takakura method is a method of composting developed by Koji Takakura, a Japanese researcher who first introduced his findings in Kitakyushu City, Japan.

The method is an answer to the problem of organic waste, especially for the City of Surabaya, which in 2004 began to implement community-based waste management after the waste piles reached 2,000 tons per day and resulted in the closure of one of the landfills ​​in the city. 

This waste management project started by building a partnership between the city government, local NGOs, and Kitakyushu International Techno-cooperative Association (KITA) from Kitakyushu City which provided technical assistance through the introduction of the Takakura method. At this moment, the Takakura method was also developed for the first time in Indonesia and within five years (2004-2009), the implementation of Takakura method succeeded in reducing 30% of the average amount of waste per day disposed of landfill Benowo, Surabaya. 

From its success in overcoming the problem of organic waste in the city of Surabaya, then the Takakura method was replicated in various cities in Indonesia, such as Semarang, Medan, Makassar, Palembang, Jakarta, and Balikpapan. Besides, several countries apply the Takakura method, including Thailand, the Philippines, Malaysia, and Nepal. 

Takakura method can be a suitable method for households and offices in urban areas with relatively limited space. The method only requires one basket that can be filled with organic waste every day. Meanwhile, it also helps the increasing waste problem in urban areas with a low workforce

Takakura method only takes one to two weeks, in contrast to other methods which can take a month or more. Besides, the application of the Takakura method tends to be simpler and easier to do. Therefore, the costs incurred tend to be cheap. So, you can apply it at home.

The compost produced by the Takakura method has the same quality as other compost, judging from its nutrient content. Composting with Takakura also reduces the risk of animals and pathogens being carried in the air because they are tightly closed. 

There are several things that you should pay attention to when composting using the Takakura method.

  • Make sure the MOL you make is ripe, not rotten (you can tell by the smell)
  • Moisture is very important, so make sure the compost starter has enough water (40-60%)
  • Cut household waste into small pieces to make it easier to decompose. 
  • The waste that is used must be easily decomposed, avoid it like hard bones or shells.

            Managing organic waste by yourself is one good habit that can bring many benefits. Hopefully, after reading this article, you will start processing organic waste in your home using the Takakura method!

By: Trie Septia Nurhaliza and Febby Fitriyani


Metode Takakura: Jawaban dari Permasalahan Sampah Organik

Pernahkan kamu memikirkan nasib akhir dari limbah organik yang diangkut oleh petugas kebersihan? Apakah sampah itu benar-benar terurai dengan sendirinya? Tahukah kamu, bahwa penguraian sampah organik dapat terjadi hanya jika ‘dibuang’ ke lingkungan alaminya? Lalu, bagaimana dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang seyogyanya menjadi tempat berakhirnya sampah organik dari rumahmu itu? Apakah TPA menjadi tempat yang ideal untuk penguraian sampah organik? 

Kondisi TPA kerap kali tidak memiliki sirkulasi oksigen yang baik dan juga memiliki suhu yang panas, serta karena kondisi TPA yang anaerobik menjadikan sampah organik tidak terurai dengan sempurna dan malah menghasilkan gas yang tidak diinginkan, seperti gas metana yang merupakan salah satu penyumbang perubahan iklim secara global. Oleh karena dampak panjangnya yang dapat berakibat pada kerusakan alam, jadi, alih-alih membiarkan sampah organik tersebut menumpuk di TPA, kenapa tidak mencoba untuk mengolah sampah tersebut? Pada artikel kali ini, Agrituner Initiative akan mengenalkan metode takakura, salah satu teknik pengolahan sampah organik yang dapat dilakukan di dalam ruangan dan tentunya mudah dilakukan di rumah.   

Bernama asli Takakura Composting Method (TCM), metode takakura ini merupakan suatu metode composting yang dikembangkan oleh Koji Takakura, seorang peneliti asal Jepang yang pertama kali memperkenalkan temuannya di Kota Kitakyushu, Jepang.

Metode ini merupakan sebuah jawaban atas permasalahan sampah organik, terutama bagi Kota Surabaya yang pada tahun 2004 mulai menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat setelah timbunan sampah mencapai 2.000 ton per hari dan mengakibatkan penutupan salah satu TPA di kota tersebut. 

Proyek pengelolaan sampah ini dimulai dengan membangun kerja sama antara pemerintah kota, LSM lokal, dan Kitakyushu International Techno-cooperative Association (KITA) dari Kota Kitakyushu yang memberi bantuan teknis melalui pengenalan metode takakura. Pada momen ini, pertama kalinya juga metode takakura dikembangkan di Indonesia dan dalam kurun waktu lima tahun (2004-2009), implementasi metode takakura sukses mengurangi 30% rata-rata jumlah sampah per hari yang dibuang ke TPA Benowo, Surabaya. 

Dari keberhasilannya mengatasi problem sampah organik di Kota Surabaya, metode takakura kemudian direplikasi di berbagai kota di Indonesia, seperti Semarang, Medan, Makassar, Palembang, Jakarta, dan Balikpapan. Selain itu, terdapat beberapa negara yang menerapkan metode takakura, di antaranya yaitu Thailand, Filipina, Malaysia, dan Nepal. 

Takakura menjadi metode yang cocok untuk rumah tangga maupun perkantoran di perkotaan yang relatif memiliki ruang terbatas. Metode ini hanya membutuhkan satu keranjang yang dapat terus diisi limbah organik setiap harinya. Adapun juga sesuai dengan permasalahan limbah di perkotaan yang semakin bertambah dengan tenaga kerja yang rendah.

Pengomposan takakura hanya membutuhkan satu hingga dua minggu saja, berbeda dengan metode lain yang dapat mencapai satu bulan bahkan lebih. Selain itu, penerapan metode takakura ini cenderung lebih sederhana dan mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, biaya yang dikeluarkan cenderung murah. Jadi, bisa kalian terapkan di rumah.

Kompos yang dihasilkan metode takakura memiliki kualitas yang sama dengan pengomposan lainnya, dilihat dari kandungan unsur haranya. Pengomposan dengan takakura ini juga mengurangi risiko adanya hewan maupun patogen yang terbawa udara karena karena tertutup rapat. 

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan saat membuat kompos dengan metode takakura.

  • Pastikan MOL yang kamu buat dalam keadaan matang bukan busuk (bisa diketahui dari baunya)
  • Kelembaban sangat penting, sehingga pastikan starter kompos cukup air (kelembaban 40-60%)
  • Potong-potong limbah rumah tangga menjadi kecil agar lebih mudah terdekomposisi
  • Limbah yang digunakan harus mudah terdekomposisi, hindari seperti tulang atau cangkang yang keras.

Mengelola sampah organik oleh diri sendiri merupakan salah satu kebiasaan baik yang dapat mendatangkan banyak manfaat. Semoga setelah membaca artikel ini, kamu mulai mengolah sampah organik di rumahmu dengan metode takakura, ya!

Oleh: Trie Septia Nurhaliza dan Febby Fitriyani. 


Referensi:

Gilby, S., Hengesbaugh, M., Gamaralalage, P. (2017). PLANNING AND IMPLEMENTATION OF INTEGRATED SOLID WASTE MANAGEMENT STRATEGIES AT LOCAL LEVEL:THE CASE OF SURABAYA CITY. 

Nuzir, F. A. (2018). Development Model of Takakura Composting Method (TCM) as an Appropriate Environmental Technology (AET) for urban waste management. Scientific Conference on Policy, Engineering, Art, Culture, and Education (SCOPEACE) Hiroshima, 21 July 2018. https://www.iges.or.jp/en/publication_documents/pub/presentation/en/6656/SCOPEACE+2018_Fritz_IGES.pdf (diakses 27 Februari 2021)

Nuzir, F. A., Hayashi, S., & Takakura, K. (2019). Takakura Composting Method (TCM) as An Appropriate Environmental Technology for Urban Waste Management: Case study of Hai Phong, Viet Nam. International Journal of Building, Urban, Interior and Landscape Technology (BUILT), 13(1), 67 – 82. Retrieved from https://ph02.tci-thaijo.org/index.php/BUILT/article/view/183252

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *