Until now, handling the waste problem is still a challenge for all of us. The small steps we take from the environment can have a big impact for the wider community.

First, let’s talk about how waste is managed. When viewed from volume, data from the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) states that in 2020 there will be as many as 67.8 million tons of domestic waste, the number of which is likely to continue to increase in line with population growth in Indonesia. This huge amount is no longer able to be accommodated in the Final Disposal Site (TPA), most of the waste is finally left to sit up and only a little is recycled. It is clear that a new breakthrough in waste management is needed, especially for recycling activities.

Now there is reverse vending machine technology, a breakthrough to make it easier for people to take part in processing the domestic waste produced. So, how does it work?

Reverse vending machines work by accommodating empty used beverage bottles and cans that someone has entered to be exchanged into rewards such as money, shopping vouchers, and other prizes. This vending machine was developed to encourage community participation in recycling waste more effectively and cost-effectively. Even though in Indonesia there are still many who do not know about the Reverse Vending Machine, the idea of ​​this sophisticated technology has existed since the 1920s. The first patent for the RVM concept under the name “Empty Container Return and Handling Machine” was filed on September 13, 1920 in the United States by Elmer M. Jones and Sue Walker Vance. Meanwhile, the first production of the RVM took place in the late 1950s.

There are several benefits provided by reverse vending machines, including helping reduce the amount of waste that has accumulated in the landfill, increasing the number of recycling activities, preventing the use of new materials for a product, reducing greenhouse gas emissions, reducing water use, so that it can open up new job vacancies. What do you think if RVM was in your area, what would it be like?

Written by: Harlino Nandha Prayudha and Trie Septia Nurhaliza


Satu Langkah Lebih Dekat dengan Reverse Vending Machine

Sampai hari ini, penanganan masalah sampah masih menjadi tantangan untuk kita semua. Langkah kecil yang kita lakukan dari lingkungan sekitar bisa berdampak besar untuk kepentingan masyarakat luas.

Kita mulai dengan membicarakan bagaimana sampah dikelola. Jika dilihat dari volume, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saja menyebutkan pada tahun 2020 ada sebanyak 67,8 juta ton sampah domestik yang jumlahnya kemungkinan terus bertambah seiring dengan pertambahan penduduk di Indonesia. Jumlah yang sangat banyak tersebut tidak lagi mampu ditampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sebagian besar sampah akhirnya dibiarkan menggunung begitu saja dan hanya sedikit yang didaur ulang. Jelas diperlukan terobosan baru dalam pengelolaan sampah terutama untuk kegiatan daur ulang.

Kini sudah ada teknologi reverse vending machine, sebuah terobosan untuk memudahkan masyarakat ikut andil dalam mengolah sampah domestik yang dihasilkan. Bagaimana cara kerjanya ya?

Reverse vending machine bekerja dengan menampung botol dan kaleng minuman bekas kosong yang dimasukkan oleh seseorang untuk ditukar dengan bentuk apresiasi berupa uang, voucher belanja, dan hadiah lainnya. Vending machine ini dikembangkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam mendaur ulang sampah secara lebih efektif dan hemat biaya. Walaupun untuk di Indonesia nama alat ini masih terdengar asing, tetapi ide mengenai teknologi yang canggih ini telah ada sejak tahun 1920-an, loh. Hak paten pertama untuk konsep RVM dengan nama “Empty Container Return and Handling Machine” diajukan pada tanggal 13 September 1920 di Amerika Serikat oleh Elmer M. Jones dan Sue Walker Vance. Sedangkan produksi pertama dari RVM dilakukan pada akhir tahun 1950-an.

Kemudian, ada beberapa manfaat yang diberikan oleh reverse vending machine, di antaranya ialah membantu mengurangi jumlah sampah yang menggunung di TPA, menaikkan angka kegiatan recycling, mencegah penggunaan material baru untuk suatu produk, menurunkan emisi gas rumah kaca, mengurangi penggunaan air, hingga dapat membuka lowongan kerja baru. Kira-kira kalau RVM ada di daerahmu, akan jadi seperti apa ya?

Ditulis oleh: Harlino Nandha Prayudha and Trie Septia Nurhaliza

One thought to “Let’s Know More about Reverse Vending Machine!”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *